Rabu, 09 April 2014

Bahagia Itu Sederhana

Cerpen Remaja Bahagia Sederhana
Banyak yang salah sangka menafsirkan tingkah lakuku yang aneh. Aku terlahir dengan karakter introvert. Itu istilah untuk seorang yang pendiam, pasif, dingin, dan tertutup. Penyebab aku tak punya teman, sendirian dan penyendiri. Jangan sapa aku dijalan, karena aku tidak akan menoleh. Mereka bilang aku sombong. Tentu saja, aku juga tidak akan menyapa siapapun karena aku tidak mengenal siapapun di dunia ini. Aku tak punya teman, pacar, dan keluarga. Aku ini sendirian.

“Bagaimana dengan ayah, ibu, kakak dan adikmu ?”
“Aku tak punya keluarga.”
“Bukankah dirumahmu ada orang selain dirimu?”
“Kau ini banyak omong, berhentilah bertanya !”

Aku  meninggalkan cewek berbadan mungil bernama Tasya tersebut dan melanjutkan perjalananku. Duniaku terlalu membuat tasya merasa tertarik untuk menanyakan segala macam hal tentang diriku. Jujur saja, aku tidak menyukainya.

Aku duduk di bangku cafe dan sekali lagi kulihat Tasya membuntutiku. Tak mau terjebak dengan pertanyaannya lagi, aku memilih untuk menutup mataku tak mau peduli. Tasya malah semakin mendekatiku.

“Kau ini aneh, semua orang punya teman, kenapa kau menutupi dirimu seperti itu?”
Terdengar suara Tasya mengganguku. Aku mendengar namun tak mau menggubris, ia seakan tak perduli dan masih melanjutkan kata – katanya.

“Karena di dunia ini tidak ada yang benar – benar memahami perasaanmu? Begitu bukan? Maka kau memilih untuk menjadi pemberontak dan pendiam seperti ini? Berbicara tidak ada gunanya menurutmu?”

to be continued....
Masih semangat kan membaca Cerpen Remaja : Bahagia Itu Sederhana ? kita jeda dulu sejenak, santai saja tidak perlu takut cerpennya akan habis, karena di Menyapa Kamu ini ada segudang cerpen yang akan menarik untuk kamu baca. Oke sobat, sudah siap dengan ceritanya? Lanjutin deh membacanya. :) Chek it out...

Tasya semakin membuatku kesal. Ia mengatakan semuanya. Hal yang memang aku rasakan dan membuat diriku seperti ini.  Aku tak suka padanya. Dia terlalu berisik. Gadis itu tak perduli meskipun aku acuh tak acuh.  Ia mengerti isyarat bahasa tubuhku yang tak bergerak. Ia tahu kalau aku mengiyakan kata – katanya. Aku ingin membungkam mulutnya, tapi ia tak mau berhenti.

“Aku ingin kau tahu bahwa aku selalu memahamimu. Jadi bertemanlah denganku, Gea. Maka aku akan mengajarimu bagaimana caranya menyambut dunia.” Suara melengkik Tasya mengusikku.
“Diamlah. Aku tak ingin mendengarmu lagi ! Persetan dengan itu semua. Aku tak butuh siapa – siapa di dunia ini. ” Jawabku meninggi kepada gadis itu, ia terbelalak.

Aku sudah melalui banyak masalah dan kesedihan di hidupku. Sedari kecil aku sudah dititipkan di panti asuhan, kemudian aku diangkat oleh orangtuaku yang sekarang, mereka gemar memukuliku. Hingga aku trauma untuk bicara. Sampai saat ini, mereka membuatku takut untuk bersuara. Aku putuskan untuk hidup dengan diriku sendiri. Di dunia ini, sendirian.

“Masih ada Tuhan yang mengabulkan doa – doamu. Jadi bersahabatlah dengan dunia, maka dunia akan mengatakan selamat datang kepadamu. Bahagialah, karena kamu pantas untuk bahagia, Gea. Memberi dan menerima. Mencintai dan dicintai.”

Tasya membuatku menangis. Entah kenapa airmata begitu cepat menetes dari pipiku. Aku tak ingin dilihat begitu lemah. Mereka tahu kalau aku adalah sosok yang tangguh. Aku tak suka menangis, kuhapus airmata yang menetes dipipiku, dan menarik nafas perlahan. Aku melihat sosok Pria tinggi, tegap, berwajah teduh, senyumnya menyungging,

“Apa kabar, sayang ?” Sapanya dengan senyum hangat.
Aku mencari sosok Tasya, yang entah hilang pergi  kemana. Kucari dan tak kutemukan lagi. Ia pergi tanpa berpamitan. Dan orang ini? Bukannya ia pacarnya Tasya?
“Gea Anastasya.....” Panggilnya manja.
Aku terperanjat dan terbangun dari khayalku. Terdengar suara besar cowok yang kini sudah duduk tepat di depan mejaku. Pacarku, Rano.
“Tuhkan mengkhayal lagi. Kebiasaan deh !” Tuturnya lembut.

Aku membalasnya dengan senyum manisku. Rano adalah duniaku yang baru, semenjak bersamanya kini aku tahu kalau hidup ini terlalu indah untuk dihabiskan dengan menggerutu. Keluhan itu sudah kubuang dan kukubur jauh. Dan sekarang aku dan Rano tengah mempersiapkan hari bahagia kami, rencana pernikahan yang akan dilaksanakan sebulan lagi.
The ENd

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda